Menjelajahi Kepulauan Seribu, Asyiknya Ber-snorkeling PDF Cetak E-mail
Senin, 23 November 2009

Muncul rasa takut saat kapten kapal mengingatkan agar kami tidak bersentuhan dengan bulu babi.

Bau laut dan amis ikan Muara Angke, Jakarta Utara, segera kami tinggalkan, akhir September lalu. Pagi itu, berdelapan kami naik perahu motor tradisional--biasa disebut ojek. Moda transportasi laut mirip kapal pengungsi Vietnam itu membawa kami menyeberang Teluk Jakarta menuju Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu.

Perahu dibuat mirip feri dengan dua dek khusus tempat penumpang, yakni dek atas dan dek bawah. Bagian kiri dan kanan dek bawah tertutup dinding kayu, tapi ada beberapa buah jendela di tiap-tiap dindingnya. Sedangkan di dek atas tidak ada dinding sama sekali.

Perahu penuh oleh sekitar 70 penumpang, ditambah barang-barang bawaan. Karena tak kebagian tempat, kami harus menempati bagian paling depan, dekat haluan.

Sebenarnya, untuk menuju Kepulauan Seribu, ada dua rute pilihan. Wisatawan berkocek tebal yang menginginkan kenyamanan bisa berangkat dari Pantai Marina (Ancol) dengan menggunakan speedboat, yang berangkat pukul 8-9 pagi dan kembali pukul 1 siang. Tapi, bila ingin bepergian ala backpacker, wisatawan bisa menggunakan rute dari Muara Angke seperti yang kami tempuh.

Pukul 07.10 WIB, mesin diesel kapal yang kami tumpangi mulai meraung-raung dan kapal bergetar. Perlahan kapal dengan tujuan pulau-pulau di Kepulauan Seribu itu pun mulai meninggalkan dermaga.
Lepas dari Teluk Jakarta, kapal berhenti sejenak dan seorang awak kapal langsung menceburkan diri ke air. "Biasa, ngecek kalau-kalau ada sampah yang nyangkut di baling-baling mesin, supaya jalannya nggak lambat," tutur awak kapal lainnya saat saya bertanya.

Setelah 2 jam 15 menit, dengan ongkos Rp 30 ribu, akhirnya sampailah kami di Pulau Pramuka, yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Seribu.

Kami langsung mencari penginapan walau ada pilihan lain dengan numpang menginap di rumah penduduk atau home stay. Mengingat dalam rombongan ada empat perempuan, kami memilih menyewa sebuah wisma dengan tarif Rp 300 ribu per malam.

Di bagian selatan Pulau Pramuka, ada tempat pelestarian penyu sisik (Eretmochelys imbricate), yang dikelola oleh Pak Salim, peraih Kalpataru atas jasanya melestarikan lingkungan. Tempat penangkaran penyu itu tidak begitu luas. Di sebelahnya ada tempat penangkaran kupu-kupu dan tempat pengolahan rumput laut. Bahkan di sana juga ada fasilitas untuk aktivitas outbound.

Setelah beristirahat sebentar di wisma, sekitar pukul 11.30 WIB, kami beranjak ke dermaga sambil menenteng peralatan snorkeling. Sebuah perahu mesin bersama dua awaknya sudah menanti. Dengan Rp 200 ribu, sang awak siap mengantar kami ke mana saja yang kami mau hingga hari gelap.

Saat mesin kapal baru dinyalakan, saya sempat memotret beberapa bocah laki-laki yang sedang asyik berenang di pinggir dermaga. Tanpa malu, anak-anak itu berpose di depan kamera, padahal beberapa dari mereka telanjang bulat.
Perahu mesin bergerak perlahan menuju pulau pertama yang akan kami kunjungi: Pulau Semak Daun.

* * *

Setengah jam berlalu. Dari kejauhan, dermaga Pulau Semak Daun mulai tampak. Saat akan menyandarkan perahu, kami melihat sebuah rumah panggung kecil yang terbuat dari kayu berdiri tepat di samping dermaga. Belakangan kami tahu bahwa bangunan berukuran kira-kira 4 x 6 meter itu bisa disewa sebagai tempat penginapan.

Pulau Semak Daun terletak di gugusan sebelah utara dari Kepulauan Seribu. Pulau ini bisa dicapai dengan perahu motor kira-kira setengah jam dari Pulau Pramuka. Pantainya bersih, landai, dan berpasir putih. Di pulau ini ada banyak spot yang lumayan bagus untuk berlatih snorkeling. Tak aneh bila di kanan-kiri dermaga ada beberapa anak kecil yang sedang asyik cebang-cebung di air dengan mengenakan masker, kaki katak, pelampung, dan snorkel.

Di tengah pulau yang luasnya sedikit lebih besar dibanding lapangan sepak bola ini ada bangunan yang masih baru dan sebuah rumah kayu tempat tinggal Ansori beserta anaknya. Ia penjaga Pulau Semak Daun dan pengelola kedai kopi di pulau ini. Dan, yang agak mengagetkan kami, ternyata di tepi pantai ada beberapa tenda milik orang-orang yang sedang berkemah.

Setelah puas bermain air dan pasir, serta berfoto-foto, kami beranjak meninggalkan Pulau Semak Daun menuju titik yang cocok untuk ber-snorkeling ria. Rupanya beberapa orang di antara kami sudah tidak sabar ingin menceburkan diri ke air dan menjajal peralatan snorkeling yang mereka sewa dari Pulau Pramuka. Awak perahu motor pun sangat memahami ketidaksabaran kami. Akhirnya, dibawalah kami ke sebuah spot yang bagus untuk melampiaskan keinginan itu.

Tak lupa, sebelum menceburkan diri ke air, sang kapten kapal mengingatkan kami agar tidak bersentuhan dengan bulu babi, yakni binatang laut yang 95 persen tubuhnya terdiri atas duri. Menyadari hal itu, kami jadi agak ketakutan. Tapi untungnya sang kapten buru-buru mengatakan bahwa binatang itu tidak akan berbahaya selama kita tidak mengganggunya. Kekhawatiran kami pun berangsur-angsur reda.

Pukul 13.45 WIB, sesi pertama snorkeling kami selesai. Selanjutnya kami dibawa oleh sang kapten menuju sebuah tempat bernama Pulau Air, sebuah pulau pribadi. Kami disambut oleh sebuah selat yang pulau-pulaunya dipenuhi pohon cemara dan semak belukar serta dikelilingi laut yang warna airnya hijau terang. Air laut di selat kecil ini relatif tenang karena embusan angin terhadang oleh pulau-pulau yang mengelilinginya.

Pulau yang terbentang di sebelah kanan perahu kami tampak terpelihara dan dilengkapi dengan infrastruktur yang baik. Bangunan-bangunan permanen berdiri di pulau itu. Kata kapten, si empunya pulau adalah seorang pengusaha yang juga mengelola sebuah hotel di kawasan Senayan, Jakarta. Jadi, kami sadar tidak mungkin berlabuh di Pulau Air tanpa seizin pemiliknya. Kata sang kapten kapal, pulau ini juga memiliki tempat pendaratan helikopter dan lapangan golf mini.

Pulau Air merupakan tiga gugusan pulau kecil. Luasnya hanya 2,9 hektare. Dua pulau yang mengimpit Pulau Air berukuran sangat kecil, berbentuk memanjang, dan memiliki dinding penyangga berupa beton yang berfungsi sebagai penahan agar pasir di daratannya tidak turun ke laut saat datang empasan gelombang.

Sebaliknya, pulau yang ada di sebelah kiri kapal kami tampak tak terurus, kecil, tapi bentuknya memanjang. Di pulau sepi tak berpenghuni itulah kami meminta kapten kapal menepi untuk sekadar melihat-lihat keadaan sekeliling. Hampir seluruh permukaan tanah di pulau itu tertutup oleh tebalnya timbunan daun cemara kering.

Sekitar 30 menit pun berlalu. Salah seorang dari kami meminta kapten kapal kembali menyalakan mesin dan mencari tempat lain yang mungkin lebih cantik. Tapi, di tengah perjalanan, ada yang meminta agar snorkeling sesi kedua segera dilakukan. Kapten kapal pun segera mencari spot yang cocok untuk lokasi snorkeling.

Sejak semula, saya enggan menceburkan diri ke laut. Sebab, hari masih siang dan, menurut saya, sangat konyol bila berenang dalam cuaca seperti itu. Hal itu membuat teman-teman sedikit kecewa dan mereka ragu terhadap keberanian saya berenang di laut. "Katanya jago berenang, mana buktinya? Bilang aja nggak bisa berenang," tutur Donna, salah satu dari kami, dengan nada menyindir.

"Nggak panas, kok. Kalau sudah di air, pasti adem. Justru, kalau menunggu sore, nanti air lautnya dingin. Malah, kalau sore, agak susah melihat karangnya, kurang terang. Mending sekarang saja, mumpung masih terang," ujar sang kapten.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya saya pun langsung menyambar peralatan snorkeling yang "menganggur" dan... byurrr! Benar saja, ketika tubuh mengempas air laut, sinar matahari tidak terasa panas.
"Iya ya, nggak panas," tutur saya.
"Huuuuu, bukannya dari tadiii! seru teman-teman.

Hari sudah menjelang sore. Sinar matahari sudah mulai "ramah". Kami pun jadi merasa nyaman menyaksikan sibuknya aneka ikan kecil yang hilir-mudik di atas terumbu karang serta warna-warninya polip di antara batu gamping dan koral. Bahkan, pada sesi kedua ini, kami menemukan lima ekor bintang laut sebesar telapak tangan orang dewasa.

* * *

Sekitar pukul 16.30 WIB, kami beranjak dari spot snorkeling menuju Pulau Karya untuk beristirahat sejenak dan menunggu sunset. Dari kejauhan, dermaga di Pulau Karya hampir mirip dermaga di Pulau Semak Daun: sama-sama memiliki jembatan panjang yang terbuat dari kayu. Bedanya, di dermaga Pulau Karya tidak ada home stay sebagai tempat penginapan.

Dari dermaga, kami berjalan ke arah timur, menyusuri jalan setapak yang permukaannya agak tinggi, terbuat dari batu dan semen. Tampaknya jalan itu dibuat sebagai tanggul untuk mencegah merosotnya tanah dan mencegah abrasi dari gempuran ombak.

Banyak pohon di Pulau Karya. Tapi sangat sedikit jumlah orang yang tinggal di tempat ini. Sebab, pulau yang hanya seluas 6 hektare ini dikhususkan sebagai tempat perkantoran pemerintah daerah dan Kepolisian Resor Kepulauan Seribu. Dan rumah yang berderet-deret di sisi selatan adalah rumah dinas pemerintahan Kepulauan Seribu.

Di sisi sebelah barat pulau ini terdapat tempat pemakaman. Kata orang, pemakaman itu digunakan oleh penduduk Pulau Pramuka dan Pulau Panggang. Jadi tidak aneh bila Pulau Karya juga disebut pulau kuburan. Selain pemakaman, di sisi barat Pulau Karya ada sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum, yang hanya menjual solar untuk bahan bakar perahu motor.

Tibalah kami di sebuah tikungan yang merupakan ujung batas jalan tanggul itu. Di depan kami terhampar pasir putih dan laut dangkal yang airnya jernih. Kami semua melepaskan alas kaki dan duduk-duduk santai di atas pasir.

Matahari semakin tergantung rendah. Kami pun bergegas berjalan ke utara melalui sisi timur pulau untuk memburu sunset. Di sisi kiri kami, barisan pohon cemara dan semak belukar berderet panjang. Sedangkan di sisi kanan, mangrove muda setinggi pinggang tertanam rapi, berjejer, dan berkelompok-kelompok. Cahaya redup matahari memantul melalui sisa-sisa air laut pada pasir tatkala ombak merayap kembali ke laut. BONNY DWIFRIANSYAH, Penikmat Perjalanan, Tinggal di Jakarta

Sumber: Koran Termpo, Edisi 22 November 2009

 

Add comment


Security code
Refresh

< Sebelumnya   Berikutnya >
 

Kontak

puloseribu.com
SMS. 0815 9819 841
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya