|
Tara dan Rp. 4.2 juta Dana Talangan itu |
|
|
|
|
Rabu, 22 Juli 2009 |
Iman Cahyadi & Alamsyah M. Dja’far
Pulau Tidung-puloseribu.com. Lelaki paruh baya ini tak menyangka, Minggu Pagi itu (19/07) adalah hari paling naas. Paku yang dipantiknya pada sebuah kayu penyangga saat tengah memperbaiki rumahnya tiba-tiba terpental lalu menusuk kornea matanya. Tara (6o thn), lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan ini, karuan saja berteriak sejadi-jadinya menahan rasa sakit. Mengetahui paku bersarang di matanya spontan Tara mencabut paku. Setelah itu darah segar pun keluar. “Sekitar pukul 11.oo WIB, Wak Tara dibawa ke Puskes Pakai Motor, saya jalan kaki,” kata Laila (55) isteri Tara kepada puloseribu.com keesokan hari, Senin (20/07) di rumahnya di Jalan Pantura di sebelah utara pulau. Wak, adalah sapaan hormat pada orang yang dianggap lebih tua.
Setiba di Puskesmas Kecamatan Pulau Seribu Selatan, Pulau Tidung, Tara dilayani dua perawat: Mudawaroh (35 thn) dan Suharni (25 thn). Menurut keterangan Laila, pagi itu dokter jaga Pukesmas tak nampak batang hidungnya. Oleh kedua perawat tadi, mata Tara dibersihkan agar tak infeksi. Setelah itu diberi resep obat mata dan tidur. Tak ingin suami mengalami nasib lebih buruk, Laila pun minta supaya suaminya mendapat rujukan ke rumah sakit di Jakarta dengan menggunakan ambulance UGD laut secepatnya. Satu dari perawat mengatakan, untuk mendapat rujukan dan fasilitas itu Laila harus lebih dulu membuat Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari Kelurahan.
Setelah mendapat pengobatan tadi, Tara pun dibawa kembali pulang ke rumah untuk istirahat dan minum obat. Bakda zuhur, salah seorang famili Laila membantu mengurus administrasi Surat Keterangan Tidak Mampu. “Sekitar jam tiga sore, Wak Tara kembali teriak-teriak kesakitan pas dikasih obat mata,” kata Laila lagi sambil menangis sesenggukan. Laila panik dan kembali mendatangi Puksemas untuk memastikan apakah suaminya bisa diusahakan dibawa ke Jakarta dengan menggunakan ambulance laut. “Coba saya bilang dulu ke Bu Eli,” kata Baitiha salah seorang petugas kesehatan sore itu bermaksud koordinasi dengan bagian terkait. Eli Almisri yang disebut si perawat tadi adalah Bagian Keuangan di Puksesmas dan bertanggungjawab pada pengeluaran operasional bahan bakar speedboat ambulance laut.
Mendapat informasi begitu, Laila balik badan dan menunggu informasi selanjutnya. Sekitar pukul empat sore Eli tiba di rumah Laila. Budiman, petugas kesehatan yang biasa menangani pasien sakit di Pulau Tidung juga datang menjenguk. “Mbo, maaf nih sebelumnya. Kalau mau dirujuk pakai ambulance mah belum bisa. Anggarannya udah abis. Tapi kalau mau beliin BBM-nya nda apa-apa. Nanti anggaran keluar diganti,” kata Eli seperti ditirukan Laila dengan logat pulau. “Berapa?” Tanya Laila lagi. “Empat juta dua ratus,” jawab Eli.
Meski sudah diceritakan bagaimana sulitnya Laila mencari uang sebesar itu, namun keputusan menyiapkan uang sebagai dana talangan bensin itu tak berubah. Tara yang waktu itu sempat menguping pembicaraan suami dengan Eli itu sempat bilang kalau dirinya lebih baik tak usah dibawa. “Udahlah nda usaha dibawa. Besoknya pagi aja. Uang segitu dari mana kita dapat,” kata Tara pada isterinya. “Udah Bang, Abang nda usah mikirin, ini lagi diusahain,” kata Laila lagi seperti diceritakan kepada Iman Cahyadi dari puloseribu.com. ketika itu air mata perempuan itu tak henti-henti mengalir. “Giliran orang susah mah nda bisa, tapi PNS bisa,” katanya tak terima. Dari informasi yang dihimpun puloseribu.com, beberapa PNS di Pulau Tidung memang pernah menggunakan ambulance laut itu untuk keperluan keluarganya yang sakit. Padahal ketentuannya, kendaraan itu hanya diperuntukan bagi orang tidak mampu. Ini dibenarkan Asbel Bellik, Kepala Puskemas Kepulauan Seribu Selatan. “Tidak yang kaya, tidak miskin maunya naik ambulance gratis,” katanya saat dihubungi puloseribu.com, Senin siang (20/07).
Setelah bertahan hampir 9 jam setelah kejadian, selepas Isya Tara akhirnya sudah berada di ambulance untuk dibawa ke Jakarta. Uang sebesar 4.2 juta itu berhasil dikumpulkan sang isteri dari pinjam sani-sini. “Itupun baru ongkos bensin, belum biaya selama dirawat,” Kata Laila yang tak ikut berangkat menemani suami karena alasan biaya pula. Sebelum berangkat di pelabuhan Tara juga masih menunggu beberapa lama. Seorang perawat yang akan mendampinginya malah sempat-sempatnya mencari pesanan kripik sukun untuk familinya di Jakarta. “Kalau aku yang sakit, sudah ngamuk-ngamuk,” kata seorang lelaki menggurutu melihat kejadian itu.
Ketika dikonfirmasi puloseribu.com, Asbel Bellik menegaskan jika yang terjadi bukanlah karena anggarannya yang habis sehingga pasien diminta menyiapkan dana talangan itu. Tapi kas bulanan pukesmas, katanya, sedang kosong. “Apalagi hari itu hari libur,” kilahnya. Dia sendiri berjanji akan menggantikan dana yang ditalangi keluarga Tara. “Pihak keluarga juga sudah telpon saya soal itu. Pasti kita ganti,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, Tara masih berada di RSUD Cengkareng, Jakarta Barat untuk mendapat perawatan. Uang talangan itu juga belum ada pergantian dari Puskesmas ke pihak keluarga. "Belum. Tapi pasti akan diganti," kata Asbel kepada Iman Cahyadi, Rabu (22/07). Kemungkinan besar akibat kecelakaan itu Tara mengalami kebutaan []
|
Add comment
|
Kontak
puloseribu.com SMS. 0815 9819 841
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
|
Comments
Kasus seperti ini jangan sampai terjadi lagi...kesehatan jangan dianggap sepeleh....,
RSS feed for comments to this post